by

Peternak Ayam Petelur Terancam Bangkrut

MAJALENGKA, SC- Peternak ayam  petelur di Majalengka mulai mencemaskan harga telur ayam ras yang belum membaik. Para peternak kuatir bila harga tak kunjung membaik, efeknya usaha yang mereka geluti gulung tikar.

Peternak ayam petelur di Kecamatan Banjaran Aceng mengatakan, turunnya harga telur sangat memukul peternak. Pasalnya pada saat yang hampir bersamaan, harga pakan juga naik,meski tidak terlalu tinggi. Namun, kondisi itu tak urung membuat peternak harus melakukan upaya agar usaha ternaknya tidak tutup.

”Turunnya harga telur sangat memukul peternak berskala kecil,karena antara pendapatan dengan pengeluaran jadi tidak berimbang,lebih banyak pengeluaran,” ungkapnya, Rabu (22/9/2021).

BACA JUGA: Siap Terapkan PJJ di PAI, IAIN Cirebon Gandeng UT Latih Dosen Bikin Modul Pembelajaran

Menurut Aceng, turunnya harga telur kali ini termasuk yang paling rendah. Sebelumnya bila terjadi penurunan harga,biaya produksi masih bisa tertutupi.Tapi kali ini peternak terpaksa harus menutupi dari dana talangan agar usaha tetap berjalan.

”Bukan kali ini saja sebenarnya harga telur turun, tetapi kali ini yang paling rendah, karena peternak terpaksa harus nombok untuk biaya operasional,terutama untuk pakan dan upah pekerja,” jelasnya. 

Senada dikatakan peternak ayam petelur lainnya, Asep Hamdan. Peternak ayam petelur di Kecamatan Majalengka ini jika harga telur ayam terus menurun dia kuatir usahanya bangkrut. Akibat turunnya harga telur,dia mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. 

“Penjualan telur sekarang lagi anjlok, terutama karena harga pakan yang malah naik. Bila dihitung pendapatan dari penjualan dengan biaya operasinal masih minus Rp50 ribu per hari,” katanya.

BACA JUGA: Harga Telur Ayam Ras Turun Drastis

Ia menjelaskan, sebelumnya harga penjualan telurnya di angka Rp23 ribu per kilogram. Namun, saat ini harga merosot hingga Rp16.500,-per kilogram.  “Penurunan harganya itu kira-kira dari bulan kemarin. Dan, itu hampir setiap hari ada penurunan harga, dari Rp23 ribu per kilogram sampai hari ini menjadi Rp 16.500,- per kilogram,” jelasnya.

Asep menduga turunnya harga telur ayam di pasaran dikarenakan banyaknya bantuan sosial kepada masyarakat, serta makin banyaknya peternak ayam petelur. Sehingga, supply and demand telur ayam tidak seimbang.

“Saya berharap pemerintah bisa memberikan solusi terhadap harga pakan yang makin mahal, sehingga nasib peternak dapat diselamatkan,” harapnya. (Dins) 

Comment