by

Mahasiswa Unma Ciptakan Alat Pendeteksi Infusan

MAJALENGKA, SC- Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Majalengka (Unma) berhasil menciptakan alat pendeteksi volume cairan infusan berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Alat yang diberi nama Sistem Informasi Monitoring Infusan Pasien (SIMOISEN) itu diciptakan oleh M Iqbal Assegaf, Rifa Nurfalah dan Aditya Nursaidillah.

Salah satu mahasiswa, M Iqbal Assegaf,Kamis (30/0/2021) mengatakan, alat tersebut secara umum berfungsi mendeteksi dan memberikan peringatan ketika cairan infusan akan habis.

“Nanti kalau cairan infusannya tinggal 30 CC (centimeter cubic) akan ada alarm ke web perawatnya, jadi nanti hpnya (perawat) bunyi dan ada pesan di layarnya “Cairan infusan hampir hasis. Cara mematikan alarmnya tinggal diganti infusannya sama yang baru nanti alarmnya mati sendiri,” katanya.

Alat  ini lanjutnya  juga terhubung dengan website, jadi asalkan ada jaringan internet kita bisa memonitoring di website SIMOISEN apakah cairan infusannya masih banyak atau tidak. “Di sana (website) ada tandanya, hijau artinya full cairannya, kuning sudah mau habis, dan merah akan habis,” jelasnya.

Alat yang diciptakan ini juga lanjut Iqbal merupakan pengembangan dari hasil tugas mata kuliah Pengantar Intelegensi Buatan (PIB). Namun, setelah mendapat dana hibah dari Asuransi Astra alat itu dikembangkan menjadi alat pendeteksi berbasis website.

“Awalnya alat ini tuh dari tugas mata kuliah mereka berdua (Rifa sama Aditya), kalau saya beda semester, saya gabung pas pengajuan CSR (Corporate Social Responsibility) ke Asuransi Astra, saya ambil peran di pengembangan websitenya.Sedangkan kalau tugas mata kuliah alat ini hanya prototipe saja, setelah dapat CSR kita kembangkan lagi,” jelas Iqbal.

BACA JUGA: Vaksinasi Sasar Ibu Hamil dan Menyusui

Dikatakan Iqbal, untuk pembuatan aplikasi ini mereka menghabiskan waktu sekitar 1 bulan. Adapun untuk biaya pembuatan alatnya mereka menghabiskan Rp. 2 juta per alat. “Ada 3 alat yang kita bikin, proses pembuatan alatnya bisa nyampe dua sampai tiga  Minggu. Kalau aplikasinya paling sekitar 2 Minggu rampung,” tambahnya.

Sementara, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UNMA, Dony Susandi memberikan apresiasi pada mahasiswanya yang berhasil membuat alat pendeteksi volume cairan infusan. Apalagi karya mahasiswanya itu akan dilombakan setelah mempertanggungjawabkan penerimaan manfaat dana hibah dari Asuransi Astra.

“Rencananya 2 Oktober nanti anak-anak harus mempertanggungjawabkan ke pihak CSR-nya. Setelah itu, karya mereka akan dilombakan. Mudah-mudahan kita  menjadi yang terbaik lagi,” harapnya. (Dins)

Comment