Perwakilan pemuda Desa Jatipiring, Carmin, mengungkapkan, meski rencananya TPA berada di Desa Kubangdeleg, namun warga Desa Jatipiring dan Desa Kubangdelag merupakan dua desa paling terdampak akan keberadaan TPA. Sejak awal, pihaknya telah melakukan upaya baik ke Pemkab Cirebon maupun DPRD untuk menyampaikan keberatan.
Saat ini, menurut Carmin, proses pembangunan TPA tinggal pelaksanaan. Karenanya, ia lebih mengarahkan kepada proses berjalannya TPA nanti agar tidak menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat sekitar. Pasalnya, dampak bau dan air lindi TPA akan menjadi masalah besar bagi warga Desa Kubangdeleg dan Desa Jatipiring serta desa sekitar lokasi TPA tersebut.
BACA JUGA: DLH Kabupaten Cirebon: Sampah Harus Selesai di Tingkat Desa
“Kebetulan lokasi TPA tersebut berbatasan dengan Desa Jatipiring. Kami tidak ingin bau sampah menjadi masalah baru bagi warga, termasuk air lindi sampah nanti. Kalau tidak ada antisipasi air lindi sampah akan menyerap masuk ke tanah di desa kami,” kata Carmin, dalam pertemuan tersebut
Senada, anggota Karang Taruna Desa Kubangdeleg, Andri mengungkapkan, saat ini warga hanya akan mengawal proses pembangunan TPA agar dalam perjalanannya ke depan tidak menjadi dampak negatif bagi masyarakat sekitar. Janji Pemkab Cirebon yang akan membangun TPA yang aman dan ramah lingkungan, menurutnya harus dipastikan hal itu benar terjadi.
Pihaknya tidak ingin keberadaan TPA yang tujuannya menyelesaikan masalah sampah di Kabupaten Cirebon, namun menjadi masalah baru bagi masyarakat khususnya warga Desa Kubangdeleg dan sekitarnya.
BACA JUGA: Cirebon Timur Penyumbang Sampah Liar Terbanyak