by

Khawatir Dampak Keberadaan TPA Kubangdeleg, Warga Geruduk Kantor Kecamatan Karangwareng

SEJUMLAH pemuda perwakilan desa-desa di sekitar Desa Kubangdeleg, Kecamatan Karangwareng, menggeruduk kantor kecamatan setempat, guna memprotes penetapan Desa Kubangdeleg, sebagai lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah wilayah timur Kabupaten Cirebon,  Selasa (1/3/2022).

Perwakilan pemuda Desa Jatipiring, Carmin, mengungkapkan, meski rencananya TPA berada di Desa Kubangdeleg, namun warga Desa Jatipiring dan Desa Kubangdelag merupakan dua desa paling terdampak akan keberadaan TPA. Sejak awal, pihaknya telah melakukan upaya baik ke Pemkab Cirebon maupun DPRD untuk menyampaikan keberatan.

Saat ini, menurut Carmin, proses pembangunan TPA tinggal pelaksanaan. Karenanya, ia lebih mengarahkan kepada proses berjalannya TPA nanti agar tidak menimbulkan dampak negatif kepada masyarakat sekitar. Pasalnya, dampak bau dan air lindi TPA akan menjadi masalah besar bagi warga Desa Kubangdeleg dan Desa Jatipiring serta desa sekitar lokasi TPA tersebut.

BACA JUGA: DLH Kabupaten Cirebon: Sampah Harus Selesai di Tingkat Desa

“Kebetulan lokasi TPA tersebut berbatasan dengan Desa Jatipiring. Kami tidak ingin bau sampah menjadi masalah baru bagi warga, termasuk air lindi sampah nanti. Kalau tidak ada antisipasi air lindi sampah akan menyerap masuk ke tanah di desa kami,” kata Carmin, dalam pertemuan tersebut

Senada, anggota Karang Taruna Desa Kubangdeleg, Andri mengungkapkan, saat ini warga hanya akan mengawal proses pembangunan TPA agar dalam perjalanannya ke depan  tidak menjadi dampak negatif bagi masyarakat sekitar. Janji Pemkab Cirebon yang akan membangun TPA yang aman dan ramah lingkungan, menurutnya harus dipastikan hal itu benar terjadi.

Pihaknya tidak ingin keberadaan TPA yang tujuannya menyelesaikan masalah sampah di Kabupaten Cirebon, namun menjadi masalah baru bagi masyarakat khususnya warga Desa Kubangdeleg dan sekitarnya.

BACA JUGA: Cirebon Timur Penyumbang Sampah Liar Terbanyak

“Aksi ini muncul karena masyarakat khawatir setelah TPA ini berjalan akan berdampak negatif bagi masyarakat sekitarnya,” ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran perwakilan pemuda tersebut, Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Fitroh Suharyono, yang hadir menemui warga mengungkapkan, TPA yang akan dibangun di Desa Kubangdeleg tersebut, rancangannya merupakan TPA dengan struktur grade paling tinggi.

“Dalam rencana kami, TPA dirancang dengan grade paling tinggi di mana kolam-kolamnya itu kedap, disamping tanah di lokasi yang ditunjuk ini secara alamiah struktur tanahnya sudah kedap, sehingga dipastikan kekawatiran warga soal air lindi bisa diminimalisir dan dipastikan aman,” kata Fitroh.

BACA JUGA: Volume Sampah di Kabupaten Cirebon Tak Sebanding Armada Pengangkut

“Dengan struktur TPA yang sanitarenfil ini artinya tanah yang sudah kedap, tetapi TPA ini akan kita lapisin juga sehingga lebih kedap lagi,” imbuhnya.

Menurut Fitroh, TPA Kubangdeleg ini juga akan dilengkapi dengan IPAL atau kolam lindi yang merupakan  syarat mutlak untuk TPA. Dijelaskannya, air lindi ini tidak akan keluar, karena air lindi yang masuk kolam IPAL akan dimanfaatkan lagi untuk penyiraman di TPA untuk pendinginan atau penyiraman tanaman

“Dalam pengangkutan sampah juga akan dilakukan penertiban karena setiap armada pengangkutan sampah akan ditutup dengan terpal, serta akan diupayakan pengangkutan sampah jangan sampai lebih dari tiga hari agar tidak menimbulkan bau,” pungkasnya. (Baim)

Comment