by

Sejarah Halalbihalal Muncul di Masa Presiden Soekarno

KABUPATEN CIREBON, SC- Beragam kegiatan mewarnai halalbihalal yang digelar organisasi santri dan alumni Pondok Pesantren Kiai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek yang tergabung dalam Santri Syarif Hidayatullah (Syahidah) di Desa Dukuh, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon.

Ragam kegiatan dalam halalbihalal yang digelar sejak Senin pagi hingga malam (9/5/2022) itu, di antaranya santunan anak yatim, marhabanan dengan membaca kitab Al-Barjanzi atau riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW, ziarah kubur, pawai keliling bersama masyarakat setempat.

Pada acara puncak sendiri, diisi dengan mauidzoh hasanah atau tausiyah oleh Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, KH Ni’amillah Aqiel Siroj.

BACA JUGA: Tiga Ruang Laboratorium IPA SMPN 1 Kaliwedi Ambruk

KH Ni’amillah Aqiel Siroj dalam ceramahnya, menjelaskan sejarah munculnya kata halalbihalal itu sendiri. Dimana, kata halalbihalal menggunakan tulisan dari bahasa Arab meskipun tarkiban menurut kosa kata bahasa Arab tidak jelas.

“Kenapa menggunakan kata halalbihalal? Supaya ada kata lain, selain kata silaturahmi,” kata Kiai Ni’am.

Ia juga menyebut, kegiatan halalbihalal sendiri hanya ada di Indonesia. Hal itu, sesuai dengan sejarah pertama kali munculnya halalbihalal saat masa Presiden Soekarno pascakemerdekaan RI.

Saat itu, kata Kiai Ni’am, Presiden Soekarno sharing dengan KH Wahab Hasbullah untuk meminta pendapat terkait rencana mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh, pemuka agama, hingga politisi karena situasi saat itu banyak perbedaan pandangan, bersitegang bahkan hingga sikut-sikutan.

BACA JUGA: Empat Santri Dilaporkan ke Polisi, Pihak Ponpes Bakal Lapor Balik

“Kira-kira kalau mau mengundang mereka nama kegiatannya apa, karena kalau silaturahmi sudah biasa, urun rembuk sudah sering. Akhirnya KH Wahab Hasbullah memberikan pendapat untuk acara tersebut dengan nama halalbihalal,” terangnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek lainnya, Gus H. Muhamad Shidqi dalam sambutanya mengajak para santri dan alumni pesantrennya untuk melek teknologi. Mereka diminta mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dengan bangsa dan negara lain. Sehingga santri pun diharuskan menguasai ilmu teknologi.

“Kita ini tertinggal 15 tahun dari China dan Jepang. Di China 15 tahun yang lalu sudah mempunyai kereta cepat. Maka kita bangsa Indonesia harus benar-benar mengejar ketertinggalan itu,” ujar Ustad Shidqi.

Karena itu, pria yang juga Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah ini mendorong Sumber Daya Manusia (SDM) santri harus lebih baik agar mampu mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain. Namun untuk akhlak dan akidah, ia mengakui kualitas santri tidak diragukan lagi.

BACA JUGA: Waspada Hepatitis, Dinkes Kabupaten Cirebon Sebar Edaran Kewaspadaan

“Santri itu masa depan bangsa. Kenapa, karena santri itu menggunakan akhlak, menggunakan akidah dalam berbuat apa pun. Bahkan, kita tahu pesantren juga menjadi bengkel perbaikan akhlak manusia,” ucapnya. (Islah)

Comment