SUARA CIREBON – Serangan hama tikus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi momok bagi petani di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.
Selain menurunkan hasil panen, kondisi ini juga memaksa petani mengeluarkan biaya produksi lebih besar akibat kerusakan tanaman padi.
Ketua Gapoktan Makmur Jaya Desa Tegal Karang, Rojai, menjelaskan, serangan tikus telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir dan berdampak langsung pada pendapatan petani.
“Pendapatan jelas berkurang karena sebagian padi dimakan tikus, biaya produksi malah bertambah, pemupukan biasanya dua sampai tiga kali, sekarang harus mengulang pemupukan di bagian yang rusak supaya pertumbuhannya bisa menyamai tanaman lain,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Kondisi tersebut membuat petani berada dalam situasi sulit, di satu sisi pengeluaran terus meningkat, namun di sisi lain hasil panen justru menurun akibat serangan hama yang tak kunjung terkendali.
Berbagai cara telah dilakukan petani untuk menekan populasi tikus, mulai dari pengumpanan racun secara mandiri, penembakan, hingga pemasangan aliran listrik di area persawahan, bahkan, gropyokan juga rutin dilakukan sebelum masa tanam, namun upaya tersebut belum mampu menekan populasi secara signifikan.
“Semua cara sudah ditempuh. Gropyokan sebelum masa tanam juga dilakukan. Tapi kalau sudah ada tanaman, tikus masuk ke sawah dan sulit dikejar,”ucapnya.
Saat ini, metode pengumpanan racun menjadi pilihan yang paling sering dilakukan karena dinilai lebih memungkinkan saat tanaman sudah tumbuh, meski demikian keberhasilan pengendalian sangat bergantung pada kekompakan seluruh petani.
“Kalau tidak bareng-bareng, tikus pindah ke lahan lain. Jadi harus serempak semua tahapan pengendalian dilakukan,”pungkasnya.
Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Palimanan, Eeb, menjelaskan, serangan tikus di wilayah Palimanan tergolong endemik di sejumlah desa, seperti Pegagan, Cangkuang, Tegal Karang, dan Lungbenda.
Pemerintah bersama petani telah menggelar berbagai upaya pengendalian melalui gerakan pengendalian (gerdal), di antaranya gropyokan, pengemposan sarang, hingga pengumpanan racun.
“Mudah-mudahan dengan upaya bersama ini populasi bisa berkurang sehingga produksi padi kembali meningkat,” ujarnya.
Selain itu, pengendalian alami juga dilakukan dengan membangun rumah burung hantu (rubuha) sebagai upaya menghadirkan predator alami tikus di area persawahan.
Namun di lapangan masih ditemukan petani yang menggunakan aliran listrik karena dianggap paling cepat menekan populasi. Padahal metode tersebut berbahaya dan dilarang karena dapat membahayakan keselamatan petani maupun masyarakat sekitar.
”Listrik tidak dianjurkan dan ada aturan yang melarang karena membahayakan, baik petani sendiri maupun orang lain. Tapi karena kerugian besar, sebagian petani masih nekat,”ungkapnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















