SUARA CIREBON – Polemik pembongkaran jembatan rel kereta api kuno di Cirebon peninggalan zaman kolonial di kawasan Kalibaru (Sukalila) masih terus bergulir.
Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar Stanis Klau, melakukan peninjauan langsung potongan rel besi yang kini disimpan di UPT JB 3.3 CNP KAI Daop 3 Cirebon, di Jalan Olahraga, Kota Cirebon, Jumat, 24 April 2026.
Peninjauan tersebut didampingi langsung Vice President KAI Daop 3 Cirebon, Sigit Winarto. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan keberadaan fisik rel KA yang sebelumnya menjadi sorotan publik dan memicu polemik di masyarakat.
Umar menyampaikan, peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang menginginkan adanya audit terhadap pembongkaran jembatan bersejarah tersebut. Menurutnya, keberadaan rel KA asli memiliki nilai historis yang tidak dapat disamakan dengan replika.
“Sebagai wakil rakyat, kami menindaklanjuti permintaan masyarakat. Harapannya benda ini masih utuh karena nilai sejarahnya berbeda dengan duplikat. Ini menyangkut kebanggaan Kota Cirebon atas jejak sejarah masa lalunya,” ujar Umar.
Namun, Umar mengaku terenyuh saat melihat langsung kondisi rel besi yang telah dipotong-potong menjadi bagian lebih kecil. Umar bahkan menyebut kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena pembongkaran dilakukan tanpa melalui kajian mendalam.
“Jujur saya sedih, sampai hampir menangis. Ini seperti melihat warisan orang tua kita yang tiba-tiba disingkirkan tanpa analisa. Seharusnya ada kajian dari dinas terkait sebelum dilakukan pemotongan, karena ini benda bersejarah,” ungkapnya.
Umar menekankan pentingnya dilakukan audit pascapembongkaran untuk menilai proses dan dampak dari pembongkaran tersebut.
Sementara itu, Sigit Winarto menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu arahan dari Pemerintah Kota Cirebon terkait langkah lanjutan terhadap sisa material jembatan.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami akan mengikuti arahan Wali Kota bersama tim cagar budaya dan pihak terkait. Saat ini masih dalam proses pembahasan,” ujar Sigit.
Sigit menjelaskan, kondisi material hasil pembongkaran saat ini sudah dalam bentuk potongan kecil, sehingga kecil kemungkinan untuk direkonstruksi kembali seperti semula. Namun, terdapat beberapa opsi yang tengah dipertimbangkan.
“Salah satu opsi adalah menjadikannya monumen di sekitar lokasi sebagai penanda bahwa di tempat tersebut pernah berdiri jembatan kereta api bersejarah. Selain itu, bisa juga dibuat dokumentasi visual berupa foto kondisi sebelum dan sesudah pembongkaran,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan final terkait pemanfaatan sisa rel besi tersebut masih menunggu hasil kajian dan koordinasi lintas pihak. (Surya)
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















