Jelajah Rasa Jaga Budaya dan Upaya Mengenalkan Kuliner Cirebon ke Generasi Digital
ANAK-ANAK hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda. Layar menjadi bagian dari keseharian mereka. Tempat mereka belajar, bermain, dan mengenal banyak hal baru.
Bagi generasi ini, atau yang sering disebut sebagai Gen Alpha, pengalaman tidak selalu datang dari dunia nyata, tetapi juga dari dunia digital yang begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Di sisi lain, ada banyak hal yang perlahan mulai menjauh dari keseharian mereka. Salah satunya adalah kuliner tradisional, yang tidak lagi selalu hadir dalam pengalaman sehari-hari anak-anak.
Kondisi ini menjadi perhatian dalam upaya pelestarian budaya. Bagaimana mengenalkan kembali kuliner daerah kepada generasi yang tumbuh dengan cara belajar yang berbeda?
Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi lahirnya program Jelajah Rasa Jaga Budaya. Program yang didukung oleh Program Dana Indonesiana Tahun Pendanaan 2025 oleh Kementerian Kebudayaan ini berupaya menghadirkan kuliner khas Cirebon melalui platform Augmented Reality (AR) interaktif.

Tim peneliti yang diketuai oleh Eliya Rochmah mencoba menjembatani dua dunia yang tampak berbeda yaitu budaya tradisional dan teknologi digital.
Melalui pendekatan ini, kuliner tidak hanya dikenalkan sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita yang dapat dipelajari dan dipahami oleh anak-anak.
Dalam proses pengembangannya, tim juga mendengarkan langsung pengalaman pelaku UMKM. Salah satunya adalah Tikma, pedagang empal di Cirebon.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan hanya menjaga kualitas rasa, tetapi juga bagaimana membuat kuliner tradisional tetap dikenal oleh generasi muda.
“Sekarang anak-anak lebih dekat dengan handphone. Kalau tidak dikenalkan lewat media seperti itu, takutnya mereka tidak tahu makanan daerah sendiri,” ujarnya.
Melalui platform AR, anak-anak diharapkan dapat mengenal kuliner Cirebon dengan cara yang lebih sesuai dengan dunia mereka.
Mereka dapat melihat visualisasi makanan, mengenal bahan dan prosesnya, hingga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Bagi pelaku UMKM, pendekatan ini juga membuka peluang baru.
“Kalau kuliner kita dikenalkan lewat teknologi, mungkin bisa lebih dikenal luas,” tambah Tikma.
Upaya ini bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun jembatan antara generasi muda dan warisan budaya. Di tengah perubahan zaman, kuliner tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga perlu dikenalkan dengan cara yang relevan.
Saat ini, media sudah pada tahap uji coba kepada siswa sebagai Gen Alpha. Langkah ini menjadi awal dari harapan bahwa generasi digital tetap dapat mengenal, memahami, dan menghargai budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka.***



















