SUARA CIREBON – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk‑Cisanggarung menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau tahun 2026, di aula kantor BBWS, Kamis, 2 Juli 2026.
Dalam rapat tersebut, pihak BBWS menghadirkan ahli dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat serta perwakilan instansi terkait. Hal itu dilakukan untuk menyamakan langkah pengendalian risiko bencana kekeringan yang mungkin terjadi.
Perwakilan BMKG Jawa Barat, Yoga, mengingatkan potensi dampak fenomena El Niño yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada tahun 2026.
“Nilai SSTA di wilayah Nino 3.4 mencapai +1,61, yang secara jelas mengindikasikan kondisi El Nino sedang berlangsung. Fenomena ini diprediksi akan terus menguat hingga bulan Juli‑September, dengan peluang mencapai kategori kuat sebesar 98 persen,” kata Yoga.
Dampaknya, lanjut Yoga, terlihat pada prediksi curah hujan untuk periode Juli sampai September yang berkategori rendah, berkisar antara 0-100 mm dan secara konsisten berada di bawah kondisi normal.
“Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus‑September, yang bertepatan dengan kebutuhan air irigasi paling tinggi,” jelas Yoga.
Menurut Yoga, secara umum wilayah selatan Jawa Barat diprediksi masih menerima hujan lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Namun seiring berjalannya waktu hingga Agustus dan September, intensitas hujan akan semakin berkurang sehingga risiko kekeringan meningkat. Wilayah yang menjadi perhatian khusus antara lain Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon bagian utara, Kota Tasikmalaya, serta Majalengka bagian utara.
“Wilayah utara saat ini masih relatif normal, namun tetap harus diwaspadai jika tren penurunan curah hujan terus berlanjut. Data ini akan menjadi dasar penyusunan strategi mitigasi dan kesiapsiagaan bersama,” tegasnya.
Yoga menjelaskan, El Niño merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
“Namun perlu dipahami bahwa El Niño dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niño terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” katanya.
Wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.
Menanggapi hasil pemantauan BMKG, Plh Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Arnilawati Dewi Rejeki melalui Kepala Bidang Operasi BBWS Cimanuk‑Cisanggarung, Martius, menyatakan, pihaknya telah menyiapkan mekanisme pengelolaan air secara ketat dan terpadu.
Wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung mencakup delapan kabupaten dan kota, yaitu Garut, Sumedang, Majalengka, Indramayu, Cirebon, Kuningan, serta sebagian wilayah perbatasan Jawa Tengah.
“Kami mengelola sembilan waduk utama dan jaringan irigasi seluas lebih dari 252.000 hektare. Seluruh sumber air akan diatur sedemikian rupa agar kebutuhan untuk pertanian, air bersih, serta kelestarian lingkungan tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung,” ujar Martius.
Untuk mendukung pengelolaan tersebut, BBWS telah membentuk Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK). Unit ini bertugas menjaga operasional dan pemeliharaan sungai serta prasarana pendukungnya, berfungsi sebagai pengatur, pengendali, dan pembagi aliran air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Dengan adanya UP3BK, setiap keputusan dan pengoperasian pintu air serta pompa dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan secara langsung. Ini menjadi satu kesatuan sistem yang sangat penting dalam menjaga ketersediaan air,” tambahnya.
Martius mengimbau seluruh instansi terkait dan masyarakat untuk turut berperan aktif. Penghematan air dan penggunaan yang bijak menjadi kunci utama agar cadangan air yang ada cukup sampai musim hujan kembali tiba.
“Semua langkah ini kami lakukan agar dampak El Nino dan kemarau panjang dapat ditekan seminimal mungkin. Semoga kerja sama yang baik membuat wilayah kita tetap aman dan terpenuhi kebutuhan airnya,” pungkasnya.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.















