SUARA CIREBON – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon memperkuat upaya mitigasi banjir dari kawasan hulu Kecamatan Sumber dengan melakukan rehabilitasi dan konservasi lingkungan.
Di Desa Sidawangi, Pemkab Cirebon menanam 150 pohon dan membuat ratusan rorak atau lubang resapan untuk menahan laju aliran air menuju wilayah yang lebih rendah.
Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman, mengatakan Kecamatan Sumber menjadi perhatian karena dikelilingi kawasan perbukitan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon.
Menurutnya, penanaman pohon dan pembuatan rorak merupakan bentuk nyata pemerintah daerah bersama pemerintah desa dan kecamatan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi risiko banjir.
“Ini merupakan aksi gerakan yang perlu kita lakukan untuk menjaga lingkungan,” ujar Jigus, sapaan akrab Wabup usai kegiatan, Jumat, 21 Agustus 2026.
Beragam tanaman keras ditanam dalam kegiatan tersebut, di antaranya mahoni, jamblang, waru, dan kedawung. Tanaman tersebut diharapkan membantu meningkatkan daya serap tanah sekaligus menjaga kawasan hulu dalam jangka panjang.
Selain penanaman pohon, Pemkab Cirebon membuat rorak di sejumlah titik. Rorak berfungsi menahan aliran air agar tidak langsung mengalir deras menuju kawasan yang lebih rendah.
“Sidawangi merupakan dataran tinggi. Jadi, supaya air dari atas tidak langsung limpas ke bawah, ditahan terlebih dahulu oleh rorak,” kata Jigus.
Jigus menjelaskan, Desa Sidawangi berada di kawasan hulu Kecamatan Sumber dengan kondisi geografis yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat air hujan berpotensi mengalir dengan cepat menuju wilayah yang lebih rendah.
Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan di lokasi yang terdampak. Upaya mitigasi juga harus dimulai dari kawasan hulu.
“Penanaman ratusan pohon di Desa Sidawangi ini karena wilayah ini merupakan bagian kawasan hulu dari Kecamatan Sumber,” jelas Jigus.
Gerakan konservasi lingkungan tersebut, kata Jigus, tidak akan berhenti di Desa Sidawangi. Pemkab Cirebon akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta perangkat daerah terkait untuk menentukan kawasan lain yang membutuhkan penanganan serupa.
Saat ini, BPBD juga tengah melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang memiliki potensi rawan banjir.
“Ini nantinya bisa dilaksanakan di kecamatan-kecamatan yang lain. Ini merupakan bentuk nyata upaya pemerintah daerah supaya di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon bisa mengurangi intensitas banjir,” paparnya.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, mengatakan kegiatan konservasi di Desa Sidawangi menjadi langkah awal dalam penanganan kawasan hulu. Sebanyak 150 pohon ditanam di tiga titik di wilayah Desa Sidawangi.
Pembagian lokasi tersebut menjadi tahap awal sebelum program konservasi lingkungan diperluas ke kawasan lain yang dinilai memiliki peran terhadap risiko banjir.
“Saya kira ini merupakan awalan saja. Ke depan, sesuai yang disampaikan Pak Wakil Bupati, BPBD sedang memetakan di mana titik-titik banjir,” kata Dede.
Menurut Dede, Kabupaten Cirebon masih memiliki sejumlah wilayah kecamatan yang berpotensi mengalami banjir. Karena itu, strategi penanganan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kawasan hulu, lokasi rawan banjir hingga wilayah hilir.
“Jadi, di titik banjir perlu penanganan, hulunya pun perlu penanganan sampai dengan ke hilir. Itu berarti secara menyeluruh,” terangnya.
Dede menegaskan, kawasan Sidawangi menjadi salah satu bagian penting yang perlu mendapat perhatian karena berada di wilayah berkontur tinggi. Pembuatan rorak dan penanaman pohon dilakukan untuk memperlambat laju air sekaligus meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air.
“Penyebab banjir di Sumber salah satunya dari Sidawangi. Karena ini daerah ketinggian, hulunya. Yang kita tangani ini hulunya. Ada pembuatan rorak dan penanaman pohon. Itu minimal menghambat aliran air atau arus air yang tentu airnya mengalir ke bawah,” paparnya.
Menurut Dede, rorak yang dibuat di kawasan tersebut berfungsi menampung sementara air hujan agar tidak langsung mengalir menuju wilayah yang lebih rendah. Jumlah rorak yang dibuat mencapai ratusan.
“Kalau bahasa simpelnya embung mini, agar air tidak langsung ke bawah, tetapi ada yang tertahan dan terserap,” kata Dede.
Pemkab Cirebon berharap kombinasi penghijauan, pembuatan rorak, pemetaan kawasan rawan banjir, serta penanganan dari hulu hingga hilir dapat menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di Kabupaten Cirebon.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















