by

Kelola PKBM di Sela Kesibukan Tugas, Bripka Dedi Rustandi Gratiskan Biaya Ratusan Siswa

FAKTOR klasik yang menjadi penghambat masyarakat mengakses pendidikan adalah persoalan biaya. Padahal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon telah menggratiskan biaya pendidikan hingga tingkat SMP. Namun faktanya, angka putus sekolah di Kabupaten Cirebon masih cukup tinggi.

Hal itulah yang melatarbelakangi anggota Polsek Mundu, Polres Cirebon Kota, Bripka Dedi Rustandi SPd MPd menggagas pendirian Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Indra Abdi Utama, pada tahun 2019 lalu. Di dalam PKBM tersebut, terdapat program paket (sekolah persamaan, red) dari mulai paket A, B hingga C.

Saat ditemui awak media, pria yang sudah tiga tahun menjabat sebagai Bhabinkamtibmas Desa Penpen Kecamatan Mundu itu tengah berada di PKBM yang dirintis tersebut. Tempat yang digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah rumah saudaranya di Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura yang sudah ia kontrak. Saat itu, ia terlihat tengah berbincang dengan sejumlah anak didiknya yang berasal dari daerah sekitar PKBM.

BACA JUGA: Kejar Target Booster, Kapolda Jawa Barat: Kita Akan Laksanakan Vaksinasi Usai Salat Tarawih di Sejumlah Masjid Besar

“Kebetulan saya dari keluarga guru, bapak saya Kepala Sekolah, kebetulan saya juga kuliah mengambil pendidikan. Jadi, sebenarnya saya berbuat seperti ini karena panggilan saja,” kata Dedi.

Sejak PKBM berdiri pada tahun 2019 lalu, kata dia, sampai sekarang sudah ada sekitar 100 lebih siswa yang belajar di PKBM-nya. Jumlah tersebut terbagi dari beberapa tingkatan baik dari SD, SMP maupun SMA. Untuk memastikan pembelajaran berjalan dengan baik, dirinya dibantu sembilan tutor dalam menjalankan PKBM tersebut.

“Kebetulan saya kan masih aktif di Polri, jadi tidak sepenuhnya bisa fokus ke PKBM. Alhamdulillah saya dibantu oleh sembilan tutor yang punya semangat sama untuk memberantas angka putus sekolah,” terangnya.

BACA JUGA: Harga Gabah Anjlok, Petani Terpuruk

Dedi menjelaskan, dirinya memang harus bisa membagi waktu antara kewajiban dan tugas sebagai polisi, kepala keluarga dan pengelolah PKBM. Ditambah, ia juga harus turun langsung ke lapangan ketika ada persoalan di desa binaannya.

“Manajemen waktunya harus benar-benar diatur, agar semua tanggung jawab dan target bisa diselesaikan dengan baik,” paparnya.

Hebatnya, semua siswa di PKBM yang dikelola oleh Dedi tidak dipungut biaya alias gratis. Pria 34 tahun itu tidak pernah memungut bayaran dalam bentuk apapun. Semuanya dilakukan dengan ihlas atas dasar pengabdian kepada masyarakat.

“Orang tua saya ini guru, jadi semangat untuk membantu meningkatkan pendidikan masyarakat selalu menjadi salah satu fokus saya. Kalau tidak jadi polisi mungkin saya sudah jadi guru,” pungkasnya. (Islah)

Comment