Cerita Cirebon Hadir dalam Buku Braille untuk Siswa Inklusif
TIDAK semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati cerita rakyat. Bagi sebagian anak, cerita menjadi jendela untuk mengenal dunia, memahami nilai, dan merasakan kedekatan dengan budaya.
Namun bagi anak tunanetra, akses terhadap bahan bacaan terutama yang mengangkat budaya lokal, masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan anak, khususnya yang berasal dari budaya daerah, perlu dihadirkan dalam bentuk yang dapat diakses oleh semua anak, termasuk siswa tunanetra. Hal ini menjadi penting agar mereka juga memiliki kesempatan yang sama dalam mengenal budaya daerahnya.
Hal ini terungkap dari hasil wawancara yang dilakukan tim peneliti dengan guru sekolah luar biasa (SLB) di Cirebon, Iis Naisah SPd dan Rima Nurita Ramdhani SPd.
Ia menekankan bahwa pengembangan buku braille perlu mempertimbangkan tingkat kemampuan membaca siswa yang beragam.
“Buku yang dikembangkan sebaiknya disusun secara berjenjang, mulai dari teks yang sederhana hingga teks yang lebih panjang. Hal ini penting karena kemampuan membaca braille memerlukan proses latihan, sehingga siswa dapat berkembang secara bertahap,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan berjenjang tersebut akan membantu siswa tunanetra dalam membangun kemampuan membaca secara lebih sistematis.
Dengan demikian, buku tidak hanya menjadi media baca, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang mendukung perkembangan keterampilan literasi.
Selain itu, pengalaman membaca bagi anak tunanetra tidak hanya bergantung pada teks braille semata. Diperlukan pendekatan yang lebih konkret dan menyeluruh melalui elemen taktil, sehingga siswa dapat memahami isi cerita secara lebih mendalam.
Berangkat dari temuan tersebut, tim peneliti yang diketuai oleh Erna Labudasari mengembangkan buku braille bergambar berbasis cerita warisan budaya Cirebon.
Program ini didukung melalui Program Dana Indonesiana Tahun Pendanaan 2025 oleh Kementerian Kebudayaan.
“Pengembangan ini berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan, di mana akses terhadap buku braille berbasis budaya lokal masih perlu terus dikembangkan,” ujar Erna.
Dalam pengembangannya, buku tidak hanya disusun sebagai media baca, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang utuh. Ilustrasi dirancang dalam bentuk taktil agar dapat diraba dan dikenali, sehingga membantu siswa membangun imajinasi serta memahami alur cerita secara lebih konkret.
Cerita-cerita yang diangkat pun dipilih dari kekayaan budaya Cirebon yang sarat nilai kearifan lokal. Dengan demikian, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai media literasi, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya yang inklusif.
Melalui inovasi ini, diharapkan anak tunanetra tidak hanya mendapatkan akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dan merasakan budaya daerahnya.
Literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca, tetapi juga menjadi jalan untuk memahami jati diri dan lingkungan.
Saat ini, proses pengembangan masih berlangsung, mulai dari penyusunan cerita hingga desain ilustrasi taktil yang sesuai dengan kebutuhan pembaca.
Ke depan, buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran di sekolah dasar inklusif sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih adil, setara, dan bermakna bagi semua anak.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.



















