SUARA CIREBON – Pengendara yang hendak melintasi jalur Pantura dari Ramayana Plered hingga SPBU Tengahtani, Kabupaten Cirebon, diimbau menggunakan rute alternatif pada Minggu, 1 November 2026. Imbauan ini menyusul pelaksanaan tradisi Memayu Buyut Trusmi yang dijadwalkan berlangsung pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Kasat Lantas Polresta Cirebon, AKP Yudha Satyo Rahardjo, menyampaikan imbauan tersebut untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas selama tradisi tahunan yang dikenal juga dengan sebutan Ider-ideran atau arak-arakan budaya itu berlangsung.
Berdasarkan pengumuman Satlantas Polresta Cirebon, ruas yang perlu diantisipasi membentang dari Ramayana Plered, melalui Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan Raya Panembahan, hingga SPBU Tengah Tani.
“Pengendara roda empat disarankan menggunakan jalur tol, sedangkan jalur melalui Sumber juga dapat menjadi alternatif perjalanan,” ujarnya, Kamis, 29 Oktober 2026.
Pengguna jalan yang hendak melintasi kawasan Plered, Weru, hingga Tengah Tani diminta mengatur waktu keberangkatan dan memeriksa rute perjalanan sebelum berangkat. Pengendara juga diimbau mengikuti arahan petugas di lapangan serta tidak memaksakan diri melintasi ruas yang sedang digunakan untuk kegiatan.
Informasi terbaru mengenai pengaturan lalu lintas dapat dipantau melalui kanal media sosial resmi Satlantas Polresta Cirebon, yakni Instagram @satlantaspolrestacirebon, X @TMCPolrestaCrb, Facebook Min Sangkan, dan TikTok @satlantaspolrestacrb.
Memayu Buyut Trusmi merupakan tradisi adat tahunan yang berpusat di Kompleks Kramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Trusmi sekaligus upaya masyarakat setempat menjaga warisan leluhur.
Salah satu prosesi utamanya adalah memayu atau mengganti atap bangunan makam menggunakan anyaman alang-alang yang dikenal sebagai welit. Rangkaian kegiatan juga diwarnai Ider-ideran berupa arak-arakan yang dapat melibatkan benda pusaka, sesepuh adat, pertunjukan seni tradisional, batik khas Trusmi, dan hasil bumi.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini tidak hanya menjadi kegiatan adat, tetapi juga sarana melestarikan warisan budaya, mengungkapkan rasa syukur, serta memanjatkan doa memohon keselamatan.***
Simak update berita dan artikel lainnya dari kami di Google News Suara Cirebon dan bergabung di Grup Telegram dengan cara klik link Suara Cirebon Update, kemudian join.
















